Senin, 28 Januari 2013

Pahami Kekuatan Sebuah Nama


"Bagaimana Cinta dan dukungan keluarga membantu bocah sederhana merangkai Jejak-Jejak indah hidupnya”
Saat aku menampakkan diri di dunia pada 20 Juli 1990, ayah aku bekerja sebagai seorang supir pertamina. Kau tahu kan bagaimana supir pertamina?? Pergi pagi ketika anaknya masih tidur dan pulang ketika anaknya baru tertidur. Ayah bekerja begitu keras hingga terkadang untuk bertemu anaknya begitu sangat sulit. Hal tersebut dimaklumi, karena pernikahan ayah dan ibu baru seusia jagung, mendekati 2 tahun. Sehingga tidak ada yang ayah dan ibu miliki untuk anaknya. Untuk itu ayah bekerja keras siang malam untuk memberikan yang terbaik untuk anak pertamanya itu (sekali lagi terima kasih ayah *_*).

Ketika itu usia ayah sekitar 27 tahun ketika aku lahir ke dunia. Dengan tinggi 165 cm dan berat 58 kg, ayah tampak seperti Rano Karno masih muda dengan kumis dan jenggot yang melingkar. Tampak gagah dan tampan untuk ukuran ayah muda ^_^. Ayah merupakan anak pertama dari 4 bersaudara yang merupakan keturunan pekerja keras dan tidak mau bergantung pada siapapun. Ayah termasuk kolot dalam hal mendidik anak. Kerana ia dibesarkan di zaman ketika anak-anak dilihat tetapi tidak didengar. Zamannya kerja keras,ekonomi dan pendidikan sulit.

Tidak berbeda dengan ayah, ibu berasal dari keluarga sederhana. Namun yang menjadi nilai tambah, ibu berasal dari keluarga yang memiliki kultur keislaman yang kuat. Maklum, alm. Kakekku adalah seorang ustadz dan nenek merupakan adik dari ulama besar NU di lampung. Jadi pendidikan agama sangat melekat dari diri ibu. Aku mungkin berfikir, hal ini mungkin yang menjadi daya tarik ibu sehingga ayah melamarnya apalagi ibu adalah seorang qoriah, adeknya ibu pun qori nasional. Pokoknya kalau ibu ngaji dan paman ngaji, luluh lantah hati ini, hehe good job dad :) hingga akupun kebawa hereditas qori nya :)..

Aku adalah anak pertama di keluarga. Sedikit pendiam walau sekarang sudah tahu ilmunya bagaimana diam yang baik (hehe,, sebut saja belajar diam emas), ramah, bersemangat dalam hidup merupakan diantara  karakter aku. Akupun jago olahraga loh, diantaranya sepak bola dan bulutangkis. Jikalau ditanya mengapa ayah memberi nama Rizky Saputra pada aku?. Hal tersebut karena ayah berharap putra pertamanya ini yang akan menjadi sumber rezeki yang halal bagi keluarganya, setidaknya itu yang dijawab ayah ketika aku menanyakan hal ini kepadanya. Saat ini aku memiliki 3 orang adik yang bernama Rizka Saputri, Wahyu Ramadhan, dan Raisya Qurrotaayyun.

aa rama & me
Adik pertama aku ”Rizka Saputri” saat ini berusia 16 Tahun dan tengah berada di bangku menengah atas di salah satu sekolah swasta di Bandar Lampung. Selanjutnya adik laki-laki ku ”Wahyu Ramadhan”, si player football saat ini berusia 11 tahun dan tengah berada di bangku sekolah dasar kelas 6, yang artinya ”aa rama belajar yang giat ya, kalau masuk smp negeri aa kasih hadiah istimewa”itulah salah satu bentuk motivasi terhadap aa rama (begitu aku memanggilnya) agar dia bisa lulus dengan baik dan masuk smp negeri terbaik. Dan terakhir adik bungsuku yang soleha, cantik dan pintar ”Raisya Qurrotaayyun”. Khusus dek esa (panggilan sayangku) nama tersebut aku yang memberikannya. Harapan yang membumbung tinggi adalah agar ia bisa menjadi penyejuk pandangan bagi orang tuanya, kakak-kakanya dan tentunya suami solehnya kelak. Dan semuanya sudah terbukti seletih apapun ayah, ibu, aku dan adik-adikku, dek esa selalu jadi qurrotaayyun, seketika keletihan itu sirna ketika melihat tingkah lucunya.Saat ini dek esa sedang menikmati belajar di masa kecilnya, ia bergabung di sekolah PAUD Beringin di komplek dekat rumah.

Sangat berbahagia memiliki keluarga ini Ayah, Ibu, Dek Ika, AA Rama dan Dek Esa. Sebuah anugerah terindah yang ALLAH beri..
Maafkan anakmu ayah bunda jika belum menjadi yang terbaik... T_T
Maafkan aa ya dek jika belum bisa menjadi kakak yang baik... T_T

Dek esa
Dek Ika

0 komentar

Posting Komentar