Selasa, 19 Februari 2013

Dari Nabi Ibrahim as. Untuk Para Kader Dakwah



Nabi Ibrahim as. adalah salah seorang manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini.  Beliau sering disebut-sebut sebagai “bapak ajaran Tauhid”, meskipun sebenarnya sudah banyak Nabi dan Rasul sebelumnya yang sama-sama menyebarkan ajaran Tauhid.  Tentu ada alasannya mengapa beliau memiliki nama yang harum, sehingga beliau senantiasa dikenang, ribuan tahun setelah masa hidupnya.

Dalam Al-Qur’an terdapat sebuah surah khusus yang diberi judul “Ibrahim”.  Tentu Allah SWT memiliki alasan yang sangat bagus mengapa sosok agung ini dijadikan sebuah titik fokus dalam salah satu surat di dalam Kitab Suci-Nya.  Secara spesifik, Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan salah satu episode dalam hidupnya, yaitu serangkaian doa yang pernah diucapkannya dahulu kala.  Setiap Muslim – khususnya aktifis dakwah – bisa mengambil banyak pelajaran dari episode ini.

Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa, “Ya Rabbi, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala,” 
(Q.S. Ibraahiim [14] : 35)

Prasyarat utama dari keberhasilan dakwah adalah keamanan.  Jika tempat kita berdakwah tidak aman, maka dakwah tentu tidak bisa dilaksanakan secara maksimal dan memerlukan strategi-strategi khusus, misalnya secara sembunyi-sembunyi.  Metode sembunyi-sembunyi ini pernah digunakan pula oleh Nabi Muhammad saw. pada awal dakwahnya, karena pada saat itu pengikut beliau masih sangat sedikit, dan ajaran Islam dianggap sebagai musuh oleh para penyembah berhala, khususnya di Mekkah. 

Prasyarat berikutnya adalah aqidah dari para aktifis dakwah itu sendiri.  Bagaimana mungkin ajaran Tauhid bisa disebarkan oleh seseorang yang menyembah berhala?  Nabi Ibrahim as. bahkan tidak malu-malu untuk memohon perlindungan Allah SWT agar ia dan anak-cucunya tidak sampai tergoda untuk menjadi penyembah berhala.  Dalam hal ini, beliau telah berpikir sangat jauh.  Nabi Ibrahim as. tahu bahwa berhala bukan hanya batu atau kayu yang dipahat menjadi suatu bentuk dan disembah-sembah.  Kekuasaan, kehormatan, ego pribadi dan uang pun bisa menjadi berhala.  Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as. benar-benar berdoa agar Allah tidak memalingkannya dari Tauhidullah kepada berhala-berhala yang kadang sulit untuk diidentifikasi.

“Ya Rabbi, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia.  Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang,
(Q.S. Ibraahiim [14] : 36)

Kita dapat melihat sikap yang menjadi ciri khas Nabi Ibrahim as. di sini, yaitu lembut dan penuh kasih sayang kepada siapa pun.  Mengomentari masalah penyelewengan aqidah, Nabi Ibrahim as. sama sekali tidak membenci para penyembah berhala.  Sebaliknya, beliau mengadukan keberadaan berhala-berhala tersebut yang dianggapnya sebagai oknum yang menyebabkan banyak orang tersesat.  Beginilah sikap seorang aktifis dakwah sejati.  Jika melihat ada orang yang berbuat menyimpang, ia tidak membenci orangnya, melainkan perbuatannya.  Mereka melakukannya karena memiliki kasih sayang yang amat besar pada semua objek dakwahnya.  Mereka begitu mencintai setiap saudaranya sehingga ingin menjauhkan mereka dari segala keburukan.  Inilah motivasi dakwah yang benar.

Seseorang yang membenci objek dakwahnya selamanya tidak akan berhasil menyelesaikan misi dakwah.  Tidak akan ada yang mau mendengarkannya, karena tidak ada orang yang mau dibenci.  Tugas seorang kader dakwah adalah menyadarkan objek-objek dakwahnya bahwa jalan yang ditentukan oleh Allah adalah jalan yang terbaik.  Jika mereka tidak mau mengikutinya, maka mereka akan menganiaya dirinya sendiri.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim as. menegaskan bahwa orang-orang yang mengikutinya adalah bagian dari golongannya.  Akan tetapi, beliau tidak mengutuk mereka yang menolak dakwahnya.  Di sisi lain, beliau juga tidak diperbolehkan untuk mendoakan orang-orang kafir.  Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as. hanya menegaskan bahwa sesungguhnya Allah memiliki sifat yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun.  Sekali lagi, jelaslah bagi kita bahwa Rasul yang agung ini adalah seseorang yang memiliki hati sangat lembut, bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya sekalipun.

Selain itu, beliau tidak mengatakan “barang siapa yang tidak mengikutiku,” namun menggunakan kata-kata : “barang siapa mendurhakaiku”.  Artinya, beliau tidak menuntut orang-orang untuk mengikutinya tanpa sebab.  ‘Durhaka’ adalah istilah yang kita gunakan ketika ada seseorang yang tidak menunaikan hak kita, sementara kita telah menunaikan haknya.  Anak yang melawan orang tua disebut durhaka, demikian juga orang tua yang tidak memberikan hak-hak pada anaknya.  Dengan demikian, Nabi Ibrahim as. hanya ‘mengecam’ orang-orang yang memfitnahnya atau tidak mengindahkan argumen-argumen logis yang telah diajukannya.  Tidak mentang-mentang karena beliau seorang Rasul, lantas semua orang dituntut untuk mengikutinya.  Nabi Ibrahim as. tidak mengelak dari kewajibannya untuk menyampaikan kebenaran tanpa kenal lelah.  Beliau senantiasa siap untuk berdiskusi dengan siapa pun dan menyampaikan argumen-argumen yang baik.  Seorang aktifis dakwah pun hendaknya memposisikan dirinya dengan cara yang sama.

“Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.  Ya Rabb, yang demikian itu agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizqi dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,”
(Q.S. Ibraahiim [14] : 37)

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as. untuk meninggalkan anak istrinya (Nabi Ismail as. dan ibunya) di sebuah daerah tandus yang kini dikenal sebagai kota Mekkah.  Selain karena yakin kepada pertolongan Allah, tentu ada alasan lain mengapa Nabi Ibrahim as. mau meninggalkan kedua orang yang sangat dicintainya itu di tempat tandus tak bertuan.  Nabi Ibrahim as. merasa yakin pada kualitas diri keluarganya.  Tidak mungkin beliau meninggalkan mereka berdua hanya dengan berharap pada pertolongan Allah semata, karena beliau pastilah sangat memahami makna tawakkal.

Bagi seorang kader dakwah, keluarga adalah benteng pertama yang harus dibangun setelah dirinya sendiri.  Tidak ada alasan membenahi orang lain sementara keluarga sendiri dibiarkan terbengkalai.  Ini adalah suatu kekeliruan yang amat fatal.  Seluruh anggota keluarga kita harus dididik dengan baik sehingga memiliki kualitas yang jauh di atas standar, standar apa pun itu.  Dengan demikian, umat Islam akan dipenuhi oleh para pemuda yang dibesarkan di dalam keluarga yang amat tangguh.

Lihatlah kekhawatiran Nabi Ibrahim as. yang terlihat dengan jelas di dalam doanya!  Beliau tidak khawatir ajal menjemput anak istrinya.  Jika mereka benar-benar menemui ajalnya di sana, maka setidaknya mereka wafat dalam keadaan mematuhi perintah Allah SWT.  Yang dikhawatirkan adalah aqidah keduanya.  Nabi Ibrahim as. memohon agar Allah memberikan kecenderungan pada mereka agar terus melaksanakan shalat dengan penuh komitmen.  Beliau pun memohon berbagai kebaikan untuk mereka, bukan untuk memanjakan mereka, namun dengan harapan agar mereka senantiasa bersyukur pada Allah.  Aqidah adalah hal pertama yang harus kita pikirkan demi kebaikan keluarga kita.

“Rabb, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit,”
(Q.S. Ibraahiim [14] : 38)

Apa alasannya Nabi Ibrahim as. mengucapkan doa semacam ini?  Hanya sekedar penegasan bahwa Allah Maha Tahu?  Nampaknya tidak. 

Kalau kita membaca doa di atas dan mencoba memahami betul maknanya, kita akan melihat bahwa bahkan seorang saleh sekaliber Nabi Ibrahim as. sekalipun mengakui kelemahan dirinya.  Kadang-kadang kita membuat kesalahan dan menutup-nutupinya dengan sejuta pembenaran.  Kadang pembenaran itu kita sampaikan pada orang lain, kadang hanya disimpan di dalam hati untuk menekan rasa bersalah.  Nabi Ibrahim as. bersikap sangat ksatria dengan mengakui bahwa dirinya pun memiliki potensi untuk melakukan kesalahan semacam itu.  Karena itu, dengan doa ini, seolah ia menegaskan kepada Allah bahwa ia tidak pernah berusaha menyembunyikan apa pun dari-Nya, dan semoga ia dihindarkan dari keinginan semacam itu.

Seorang kader dakwah tidak terhindar dari kesalahan.  Jika sampai tergelincir pada suatu kesalahan, kita tidak perlu menutup-nutupinya.  ‘Status’ sebagai kader dakwah tidak perlu membuat kita merasa berat untuk mengakui kelemahan diri.  Sebaliknya, dengan mengakui kesalahan secara ksatria, justru kita akan mendapat lebih banyak kehormatan.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq.  Sungguh, Rabb-ku benar-benar Maha Mendengar doa.”
(Q.S. Ibraahiim [14] : 39)

Dari sekian banyak nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya, Nabi Ibrahim as. menyebutkan salah satu yang dirasakannya sebagai nikmat terbesar, yaitu dua orang anak.  Kehadiran keduanya sulit untuk diterima akal sehat, karena waktu itu Nabi Ibrahim as. telah berusia lanjut.  Akan tetapi, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. 

Kehadiran Ismail as. dan Ishaq as. tentu saja sangat patut untuk disyukuri.  Keduanya adalah orang saleh, bahkan kemudian diangkat menjadi Nabi.  Lagi-lagi Nabi Ibrahim as. menunjukkan pada semua kader dakwah penerusnya bahwa anak yang saleh adalah rizqi yang tidak ternilai harganya.  Oleh karena itu, harus dipahami bahwa salah satu tugas utama dari seseorang yang telah memiliki keturunan (sesibuk apa pun pekerjaannya) adalah membesarkan anaknya dengan baik.

“Rabbi, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.  Ya Rabb, perkenankanlah doaku,”
(Q.S. Ibraahiim [14] : 40)

Nabi Ibrahim as. tidak khawatir anak cucunya jatuh miskin.  Beliau juga tidak khawatir jika mereka terbunuh atau disiksa di jalan dakwah.  Asalkan mereka tetap memelihara aqidah-nya, maka keadaan tersebut sudah sangat ideal dalam pandangan beliau.  Demikianlah pandangan seorang kader dakwah, tidak kurang dan tidak lebih.

“Ya Rabb, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan,”
(Q.S. Ibraahiim [14] : 41)

Seorang Rasul agung memohon ampun atas dosa-dosanya, sementara Allah sendiri telah menjamin nasibnya di akhirat kelak!  Beginilah seorang manusia pilihan memelihara kerendahhatiannya.  Tidak ada alasan untuk merasa suci di hadapan Allah, karena setiap orang pernah melakukan kesalahan.  Di samping itu, kita hanya bisa masuk surga (atau terhindar dari neraka) jika Allah mengijinkannya.  Bisakah kita menentang Allah, sekiranya Dia berkehendak lain?

Hal lainnya yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa Nabi Ibrahim as. sungguh-sungguh (seorang Nabi tidak akan menggunakan ucapan yang sia-sia, apalagi ketika berhadapan dengan Allah) mendoakan semua orang yang beriman.  Serendah apa pun kadar keimanan seseorang, maka ia termasuk dalam doa Nabi Ibrahim as. tersebut.  Banyak Mukmin yang keblinger, tapi bukan berarti ia sudah 100% tidak beriman.  Selama ia masih beriman, maka ia masih saudara kita, dan sungguh pantas bagi kita untuk mendoakannya.

Berapa banyak di antara kita yang sungguh-sungguh mendoakan seluruh umat Islam – di mana pun, kapan pun, warga negara mana pun, ras apa pun, suku apa pun – secara tulus dan benar-benar memohonkan ampunan bagi mereka?  Inilah salah satu tolak ukur kinerja dakwah.  Jika semua kader dakwah bisa merasakan empati sekuat ini kepada sesama Muslim – apa pun keadaannya – maka insya Allah kejayaan Islam tidak terlalu jauh lagi.

1 komentar

Novita Permata Sari 30 Maret 2013 pukul 02.00

Subhanalloh,.,.

Posting Komentar