Kamis, 19 Desember 2013

Kisah ku di Pedalaman Borneo

"Pulau Kalimantan"
SANG PEMBUAT JEJAK part 2      

_KISAH PESERTA PPGT DI PEDALAMAN BORNEO

Indonesia tanaq sungai le
Sukunya tetap budayanya tetap
Ayen pernah badaq le peq merdeka
Beq raun pernah lepe tei koq lepoq perdana
                         _ Pantun kami (Dayak kenyah)
Sebuah pantun yang saya buat menggunakan bahasa dayak keyah, begitu mengejek siapa saja yang belum terbuka akan Indonesia. Bahwa di ujung negeri ini masih banyak masyarakat Indonesia yang masih jauh dari kecukupan, kelayakan hidup, kemudahan pelayanan dan semua hal yang kita nikmati selsaya orang yang tinggal di perkotaan.
Indonesia tanah air beta
Bersuku-suku dan berbudaya
Janagan pernah mengatakan telah merdeka
Kalau belum pernah tinggal di pedalaman perdana
                         _ Pantun kami (Dayak kenyah)
Luapan emosi dan perasaan di atas bukan sebatas kata tanpa arti, karena penulis mengalami sendiri selama 3 bulan tinggal di pedalaman Kalimantan Timur. Tepatnya di desa Perdana, kecamatan Kembang Janggut. Inilah kisah saya dan teman-temanJ
 
Hari itu tanggal 14 Agustus 2013, di subuh hari udara begitu sejuk tatkala bus damri telah menunggu kami 23 orang mahasiswa PPGT SMK Kolaboratif yang akan diberangkatkan dan disebar di SMK pertanian yang ada di Kalimantan Timur. Sedangkan 7 orang lainnya akan berangkat esok hari ke SMK yang ada di Merauke, Papua.
Berbalut jaket, sebuah tas ransel, dan 2 buah koper, saya berjalan menuruni anak tangga untuk menuju bus yang akan mengantar saya dan teman-teman ke bandara Soekarno-Hatta . Sebuah pengalaman yang akan menamabah jejak hidupku karena untuk pertama kalinya akan menginjakkan kaki di tanah borneo. Sebuah tempat yang gaungnya sudah terdengar sampai ke kota kelahiranku. Gaung akan sukunya, alamnya, mistisnya, adatnya dan hal lainnya yang membuat saya pribadi begitu sangat ingin segera berjumpa dengan borneo.
Setelah melsayakan perjalanan udara 2 jam dari Jakarta, akhirnya saya dan rekan-rekan tiba di Bandara Sepinggan, Balikpapan.Di bandara rombongan dipisah menuju sekolah masing-masing. Rombonganku beranggotakan 6 orang diantaranya mas Edi, Yoki, Teguh, mas Tono, mas Adi dan tentunya saya Rizky Saputra J. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah pembimbing kami, bapak babak belur hehe Pak Daryanto. Karena Pak Daryanto suka mengatakan dalam kuliyahnya babak belur ketika menyikapi suatu hal.Jadi semua teman-teman mengenalnya dengan bapak bapak belur, panggilan sayang kami ke beliau.:) Kami rombongan akan menuju SMKN 1 Kota Bangun.
Dari bandara Sepinggan menuju sekolah tempat saya dan kelima teman membutuhkan waktu perjalanan 6-8 jam. Jam 22.00 WITA kami tiba disekolah. Kami disambut oleh beberapa guru dan tentunya bapak kepala sekolah Bpk Basaruddin. Kesan pertama melihat sekolah adalah sungguh sangat mengenaskan dan mulai muncul perasaan tidak kerasan. Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan tempat kami magang sebelumnya.Di dalam hati saya berkata apa mungkin saya bisa betah dan nyaman bisa mengajar disini. Bangunannya sedikit, siswanya sedikit, tidak ada listrik lagi.Hadeuhhh jadi ilfell kalau kata anak muda. hehehe
Pada acara penyambutan tersebut nampak seseorang yang tak lain adalah coordinator sekolah filial dari SMK N 1 Kota Bangun namanya Pak Muslimin. Sekilas kami tidak terlalu mengkhiraukan, rupanya dari beliaulah saya dan beberapa rekan akan merasakan pengalamaan yang luar biasa tinggal di pedalaman borneo.
Di malam itu, kepala sekolah memberitahu kami bahwa  3 orang dari 6 peserta magang akan ditempatkan di sekolah filial di daerah pedalaman. Maka tak heran jika ketika penyambutan coordinator filial ikut menyambut kami, rupanya ingin membawa 3 orang dari kami untuk membantu mengajar di sekolah filial. 
Pak muslimin menceritakan bahwa disekolah filial nanti perjalanan kesana butuh waktu  2 hari 2  malam, lewat jalan setapak, seharian naik perahu kecil, tidak ada listrik dan lain sebagainya. Pernyataan itu rupanya membuat beberapa rekan diantara kami langsung ciut dan mengundurkan diri. Sebenarnya mendengar pernytaan itu saya bergumam dalam hati bahwa saya harus kesana, sepertinya disana lebih seru daripada disini, selagi dikalimantan kenapa tidak mencari sesuatu yang lebih menantang walau penuh dengan ketiadaan sarana dan prasarana pendudukng kehidupan. Maka dari tiu saya tekadkan dalam hati Bismillah, saya ikut pak muslimin. Dan akhirnya 2 rekan saya Teguh Yuono dan mas Tono Andri Yanto bersedia untuk berpetualang menuju sekolah filial yang ada di desa perdana, kecamatan Kembang Janggut.
alam itu kami ber enam ditemani beberapa siswa bermalam di ruangan kepala sekolah tanpa listrik dan pencahayaan hanya dari genset sekolah. Sedangkan pak daryanto bermalam di kediaman Kepala Sekolah. Akhirnya hari itu ditutup dengan istirahat.

"Penyambutan di sekolah induk"


PERJALANAN MENUJU SEKOLAH FILIAL

Subuh itu di Kota Bangun di guyur hujan. Hujan turun menemani kami sepanjang malam. Terbesit di dalam hati saya apa perjalan hari ini menuju filial akan ditunda, mengingat hujan yang tak kunjung reda dan semakin membesar.

Tepat pukul 08.00 WITA, rombongan bapak ibu guru, kepala sekolah, dosen dan koordinator menemui kami dan siap melepas kami yang akan berangkat ke sekolah filial. Nampak dari luar, mobil dengan bak terbuka (L300) telah menanti kami untuk melakukan perjalanan yang jauh menuju sekolah filial. Setelah semua siap kami berpamitan dengan sekolah induk, dan kamipun meluncur menuju sekolah filial mengendarai kendaraan bak terbuka walau harus kepanasan tapi tidak menurunkan langkah semangat kami untuk menuju sekolah filial.

Tidak kurang dari satu jam kami sudah sampai menuju dermaga penyebrangan kota bangun. Dermaga yang menjadi urat nadi untuk lalu lintas warga sekitar. Hal ini tidak dipungkiri karena seluruh Kalimantan Timur, wilayahnya dilalui sungai-sungai besar. Sangat berbeda sekali dengan kehidupan saya dan teman-teman di Lampung. Dengan menyewa 1 buah kapal kecil kamipun memulai perjalanan menuju sekolah filial. Perjalanan ini memakan waktu 2 jam hingga 3 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan senyum tak pernah lepas dari wajah saya dan rekan-rekan melihat keindahan alam sungai Mahakam.Belum lagi ketika melintasi danau Semayang yang begitu mempesona. Sangat luas seperti laut, belum lagi terlihat di kanan kiri kawanan burung angsa mencari mangsa memanjakan mata kami. Belum lagi di pinggiran sungai terlihat kawanan sapi coklat yang tengah mencari makan di rerumputan membuat kami kagum akan tanah borneo. Di dalam hati saya bergumam, tampaknya ini akan menjadi pengalaman yang sangat mengasyikkan.

Tiga jam perjalanan kami sampai di dermaga kahala, dermaga yang sederhana tapi begitu penting bagi masyrakat. Sambil melepas lelah dengan meminum secangkir kopi, saya dan teman-teman sesekali masih terbayang perjalanan menyelusuri sungai dan danau Semayang. Suatu hal yang tak terlupakan. Setelah lepas keletihan kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil charter menuju desa perdana yang memakan waktu 3 jam perjalanan darat. Oh ia sekedar informasi untuk biaya perjalanan dari kota bangun menuju desa perdana sebesar Rp 2.000.000,-/pp. Sebuah biaya yang saya katakan fantastis, tapi syukurnya semua biaya di tanggung oleh sekolah. Jadi sedikit lega. Hehe

Sepanjang perjalanan menuju desa Perdana nampak perkampungan desa-desa yang masih jarang-jarang. Yang nampak hanya perkebunan kelapa sawit yang tak berujung. Dengan mata terlelap saya masih memikirkan tempat seperti apa yang akan kami kunjungi ini. 

Mobil charteran kami memasuki perkampungan warga dan memberhentikan kami di sebuah rumah. Rupanya rumah kepala desa, dan dalam 3 bulan ini kami akan tinggal di rumah kepala desa dalam menjalankan tugas kami di sekolah filial.
"Tiba di dermaga Kahala"


PERJUANGAN DISEKOLAH
"Book Cover"
Jarak menuju sekolah lumayan jauh sekitar 1- 2 km menelusuri jalanan kebun kelapa sawit dengan berjalan kaki. Terik panas terasa, basah kuyup ketika hujan. Tapi semua itu sirna tatkala melihat siswa/I yang penuh semangat ke sekolah. Semangat itu nampak sekali di raut wajah mereka karena mereka pun untuk sampai disekolah bukan suatu perkara mudah. Jarak yang jauh, medan yang sulit, bahkan sebagian dari mereka harus menyebrangi sungai untuk sampai sekolah. Sebenarnya perusahaan yang ada di daerah tersebut menyediakan bus sekolah (itu yang mereka bilang). Padahal kami tidak menganggapnya itu bus sekolah, karena wajar itu bukan bus tapi mobil truk pengangkut sawit yang digunakan untuk mengantar siswa/I pergi sekolah. Fasilitas itu diberikan juga hanya kepada anak para pekerja perusahaan. Sedangkan yang lain harus memikirkan sendiri bagaimana dapat pergi menuju sekolah.

Kondisi sekolah filial juga tidak lebih baik. Bangunan yang masih menumpang dengan SMP menjadi sedikit penghalang siswa/I untuk lebih bebas belajar. Bangunan tempat belajar terdiri dari 4 ruangan belajar +  ruangan kantor. Ruangan kantor yang bisa dikatakan belum layak, karena ruang kepala sekolah+ruang guru+ruang TU+administrasi berada di ruangan kecil itu. 4 ruang belajar terdiri dari 2 ruangan untuk kelas X, 1 ruangan untuk kelas XI dan 1 ruangan untuk kelas XII.

Jumlah total siswa di sekolah filial berjumlah 170 siswa/i, kelas x sekitar 70 siswa/I untuk 2 kelas, kelas xi sekitar 60 siswa/I dan kelas xii sekitar 40 orang. Jumlah total guru sekitar 8 orang. Tapi yang aktif hanya 4 orang. Kenyataan ini yang buat miris. Banyak jam pelajaran yang kosong dikarenakan jumlah guru yang sedikit. Sehingga anak-anak sebelum kedatangan kami suka tidak belajar pas datang ke sekolah.

Melihat kenyataan itu kami berinisiatif untuk mengisi seluruh kekosongan guru mata pelajaran yang tidak ada. Walau harus mengorbankan waktu istirahat kami rela agar anak-anak bisa belajar dengan efektif. Saya mengajar beberapa mata pelajaran diantaranya penyuluhan pertanian, kkpi, kewirausahaan, ips dan ketika jurusan administrasi perkantoran masih ada saya juga ikut mengajar pengantar akuntansi, pengantar ekonomi dan bisnis. Total jam mengajar lebih dari 30 jam.

Dalam kegiatan mengajar saya harus pintar-pintar mengelola kelas dan memanfaatkan hal yang saya miliki dan alam miliki. Karena walau sekolah ini jurusannya pertanian, tidak ada satupun alat pertanian, bahkan listrikpun tidak ada. Hal yang menarik ketika harus mengajar KKPI. Coba bayangkan , mengajar computer tidak ada komputer dan tidak ada listrik. Mau seperti apa proses pembelajarannya?? J inilah yang saya katakan seorang guru harus kreatif. Akhirnya saya gunakan laptop saya untuk jadi bahan praktek mereka. Setiap malam saya mengecash laptop hingga full untuk digunakan sebagai bahan praktek mereka. Sedikit teori saya berikan ke mereka selanjutnya saya minta mereka satu persatu untuk maju mempraktekan. Saya fikir cara itu lebih baik untuk membuat mereka memahami pelajaran dan setidaknya mengenal komputer.

Sedih melihat kondisi siswa/i disana. Betapa tidak mereka jurusan pertanian tapi konsep dasar pertanian juga mereka tidak tahu, seperti apa itu gulma, pestisida, perhitungan jarak tanam dan lainnya. Jangan ditanya kalau penguasaan mereka terhadap komputer, masih sangat jauh. Belum lagi saya mendapati ada siswa/I yang membaca pun masih terbata-bata. Membuat miris di hati ini.

Dalam kegiatan mengajar kami disekolah filial tak jarang saya dan teman-teman menjumpai anak-anak berkelahi, guru yang diancam akan dibunuh, bahkan mabuk-mabukan dilingkungan sekolah. Geram melihat itu tapi kembali berfikir bahwa saya adalah seorang guru yang tugasnya mendidik. Maka saya dan teman-teman menangani perilaku menyimpang mereka itu dengan cara baik-baik dan mengatur strategi yang kami jalankan disana agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama. Perlahan-lahan kelakuan buruk itu pun berkurang.

Terkadang lucu melihat sekolah, jika dulu saya magang di cianjur tugas saya adalah mengelola kelas. Tapi disini saya dan teman memiliki tugas bukan hanya mengelola kelas tapi mengelelola sekolah. Bagaimana tidak dalam seminggu kami full mengajar dan dalam seminggu itu 4 hari kami merasakan hanya kami bertiga guru yang ada di sekolah. Sehingga urusan administrasi, kasus anak-anak, hingga kebijakan kecil soal pembelajran kami lah yang mengatur.



PERJUANGAN DI RUMAH DAN LINGKUNGAN

Di awal kami sudah katakana bahwa kami tinggal di rumah kepala desa. Pada awalnya kami khawatir tentang kehidupan kami. Betapa tidak, akses di lingkungan begitu terbatas. Untuk mengambil uang hidup saja yang diberikan oleh dikti butuh perjalanan 8-10 jam untuk sampai ATM dengan biaya pulang pergi 2 juta rupiah. Dari pada kami harus mengeluarkan uang sebanyak itu maka saya dan teman-teman memutuskan untuk tidak mengambil uang hidup selama 3 bulan. Dan berusaha untuk survival hidup disana dengan uang yang ada. Karena saya orang manajemen pertanian maka saya meminta mereka untuk mengelola keuangan mereka. Saya minta mereka untuk menguras uang mereka di ATM sebelum berangkat hingga terkumpul Rp 3.000.000,- yang akan saya kelola untuk hidup selama 3 bulan. Uang itu sudah terhitung dengan uang makan+uang tempat tinggal. Secara matematis, dengan biaya hidup di Kalimantan yang tinggi uang segitu tidak akan cukup untuk 3 bulan. Tapi bismillah saya akan coba kelola agar cukup 3 bulan bahkan sisa. Dan luar biasanya diakhir kami magang+tinggal dijakrta 5 hari. Uang itu masih siswa 1,7juta rupiah. Sebuah prestasi yang luar biasa. Apa yang kami lakukan disana sampai kok bisa sisa?? Rupanya ALLAH memudahkan langkah kami disana, tempat tinggal kami gratis, bahan pokok ditanggung desa, dank arena gemarnya kami silaturohmi kebutuhan sayuran setiap hari di supply oleh warga. Mereka tidak mau dibayar oleh kami. Itu mungkin hikmah silaturahmi hingga kami bisa hidup cukup di Kalimantan.

      Kegiatan kami di lingkungan selain silaturhmi adalah membantu aktivitas keagamaan di lingkungan. Melihat minimnya peran masyarakat soal aktivitas keagamaan maka kami terdorong untuk ambil bagian. Beberapa kali saya diminta untuk menjadi pengajar TPA, petugas khutbah jumat, imam masjid dan pembacaan doa saat acara tasyakuran warga. Pernah juga menjadi panitia perlombaan anak-nak TPA.

      Karena sedang di Kalimantan, tidak ada salahnya kami pun mencoba untuk mengenal kebudayaan orang dayak, kutai, banjar, dan pendatang. Semua itu dilakukan untuk menambah pengetahuaan kami akan Indonesia.

      Kehidupan kami dirumah sangat asyik karena setiap minggu untuk mencari lauk kami pergi memancing. Bahkan untuk mandi kami harus mandi di sungai karena emang sungai menjadi salah satu tempat untuk mandi dan cuci baju bagi masyarakat.

PESAN YANG KAMI INGIN KATAKAN

Sepucuk luka tergores nyata di lubuk hati kami yang terdalam melihat pahitnya kenyataan hidup di pedalaman kalimantan. Berton-ton kubik batu bara di keruk, ber kubik-kubik kayu hutan di jamah, serta ber metric ton minyak kelapa sawit di ambil untuk kepentingan segelintir orang. Tapi kenyataannya, masih banyak wajah-wajah pribumi terutama dipedalaman masih minim mendapatkan hak-hak mereka tersebut. Sarana pendidikan yang kurang, akses yang minim, biaya hidup yang tinggi, transportasi yang sulit. Kemanakah kekayaan itu dimanfaatkan????? Itulah sebuah pertanyaan yang menggores dalam di lubuk hati kami peserta PPL di SMK Negeri 1 Kota Bangun Filial Kembang Janggut.

1 komentar

Unknown 6 Maret 2015 pukul 18.20

ceritanya bagus pak :) ... tapi masih kurang panjang :D

Posting Komentar